Kisah Sukses KPB Binaan Program TEKAD di Desa Bobo Halmahera Barat dalam Budidaya Pertanian
Desa Bobo, terletak di Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, adalah salah satu desa binaan dalam Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD). Desa yang berada di pesisir utara ini memiliki potensi sumber daya alam yang besar, yang perlu didorong untuk mendukung perekonomian masyarakat setempat.
Di Desa Bobo, pertanian tanaman pangan dan hortikultura telah menjadi tradisi turun-temurun. Namun, metode budidaya yang masih sederhana serta alat yang digunakan relatif konvensional. Masyarakat desa selama ini mengandalkan alam untuk membantu proses pertumbuhan tanaman, dengan teknik budidaya yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.
Melihat kondisi pertanian yang ada, diperlukan langkah inovatif seperti Demonstration Plot (Demplot). Demplot ini menjadi sarana pembelajaran, berbagi pengetahuan, dan informasi tentang pengelolaan usaha ekonomi di desa untuk meningkatkan produktivitas dan ekonomi masyarakat. Kehadiran Demplot yang dijalankan oleh Program TEKAD terbukti memberikan dampak positif bagi masyarakat Desa Bobo.
Program TEKAD sendiri adalah inisiatif kerjasama antara Pemerintah Indonesia dan IFAD (International Fund for Agricultural Development). Program ini bertujuan memberdayakan masyarakat desa agar dapat berkontribusi pada transformasi wilayah perdesaan dan mendukung pertumbuhan inklusif di Indonesia Timur.
Dampak positif dari Program TEKAD dirasakan oleh Ketua KPB Maku Sonyinga, Bapak Kamis Usman, dan para anggotanya. Sebelumnya, mereka hanya bertani perkebunan dan menjadi nelayan tangkap. Namun, berkat program ini, mereka bertransformasi menjadi petani profesional yang membudidayakan tanaman pangan seperti jagung manis, jagung dua tongkol, dan ubi kayu. Hingga saat ini, mereka telah memasuki masa tanam keempat dengan budidaya kacang tanah.
Pada lahan seluas 0,5 hektar, Bapak Kamis Usman dan anggotanya berhasil memperoleh pendapatan sebesar Rp 4.500.000 dari hasil budidaya jagung. Pada November 2024, mereka berencana memanen ubi kayu yang akan diolah menjadi pati sagu, yang dijual dengan harga Rp 200.000 per sak di Desa Bobo dan Pasar Jailolo.
Sistem budidaya yang mereka gunakan masih bersifat konvensional, tanpa pengolahan tanah yang intensif. Jika dibandingkan dengan sistem budidaya modern, hasil panen tentu dapat lebih meningkat. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk menjadikan lahan mereka sebagai contoh atau tempat belajar bagi petani lain di Desa Bobo. Kali ini, mereka akan membudidayakan kacang tanah dengan teknik modern, termasuk pengolahan tanah dan pembuatan bedengan yang disesuaikan dengan luas lahan, serta jarak tanam yang lebih terstruktur.
Dengan perubahan ini, diharapkan petani di Desa Bobo dapat mengikuti contoh yang diberikan dan meningkatkan pendapatan mereka. Bapak Kamis Usman juga menyampaikan terima kasih kepada Program TEKAD, fasilitator, dan kader desa yang telah mendampingi mereka sejak awal program hingga saat ini. Semoga kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi petani lain untuk menjadi petani profesional yang lebih baik.
Penulis : Fasilitator TEKAD Kab Halmahera Barat
Editor : Habib