TEKAD

Mempercepat pembangunan desa khususnya di Indonesia bagian timur

Kontak Kami

Jl. TMP Kalibata No.17, Jakarta Selatan, 12750, DKI Jakarta, Indonesia.
021 - 7994372

humas@kemendesa.go.id

Ikuti Kami

Para petani yang mayoritas perempuan muda sedang beraktifitas dikebun cabai Desa Lian Tasik, Kecamatan Siritau Wida Timur, Kabupaten SBT

Budidaya Cabai Petani Muda Binaan Program TEKAD Raup Jutaan Rupiah dari Hasil Panen

Oleh Muna Rumbouw Fasilitator Kecamatan Pengembangan Ekonomi Kabupaten Seram Bagian Timur

Generasi muda kini mengambil peran penting dalam mengembangkan sektor pertanian. Dengan energi dan semangat yang mereka miliki, anak muda dapat mendorong inovasi dan perubahan yang diperlukan untuk menciptakan pertanian yang lebih modern dan berkelanjutan. Mereka adalah generasi dengan ide-ide segar dan kreativitas tinggi, yang mampu memanfaatkan teknologi dan informasi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi di sektor pertanian.

Tidak hanya itu, anak muda juga membawa semangat kewirausahaan ke dalam sektor ini. Dengan minat yang tinggi dalam menciptakan usaha dan membuka lapangan kerja baru di pedesaan, mereka memperkenalkan konsep bisnis inovatif seperti pertanian organik dan vertikal. Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada impor pangan.

Di Desa Lian Tasik, Kecamatan Siritau Wida Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku, terdapat kelompok petani muda yang menjadi contoh nyata bagaimana semangat dan kreativitas bisa membawa perubahan signifikan. Kelompok ini bernama *FAKATOTO*, yang dalam bahasa daerah berarti "Memperbaiki". Kelompok ini dibentuk pada 3 September 2021 oleh Muliani Sengan, yang prihatin melihat banyak pemuda di desanya tidak memiliki aktivitas produktif.

Dengan modal nekat, Muliani bersama beberapa temannya mulai merintis usaha budidaya cabai. Meski hanya beranggotakan 15 orang di awal, kelompok ini kini terdiri dari 10 anggota yang masih bertahan, terdiri dari 7 perempuan dan 3 laki-laki. Mereka memulai usaha dengan patungan untuk membeli bibit cabai dan meminjam lahan dari salah satu anggota kelompok.

Keberhasilan kelompok Fakatoto tidak lepas dari kerja sama dengan Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) yang dikelola oleh Kementerian Desa PDTT. Melalui program ini, mereka mendapatkan dana stimulus untuk mengelola kebun percontohan atau demplot. Fakatoto membuktikan diri dengan sukses membudidayakan cabai hingga meraup omset puluhan juta rupiah. 

Peran Pemuda dan Inovasi dalam Pertanian

Yang menarik dari kelompok Fakatoto adalah mayoritas anggotanya adalah perempuan muda berusia 20 hingga 30 tahun, yang berasal dari berbagai latar belakang pendidikan seperti informatika, ekonomi, dan keguruan. Meskipun tidak memiliki pengalaman sebelumnya di bidang pertanian, semangat belajar dan kerja keras membuat mereka mampu menghadapi berbagai tantangan dan mencapai kesuksesan.

Pada era generasi Z yang lebih dikenal dengan kebiasaan "rebahan" dan serba instan, apa yang dilakukan oleh pemuda Fakatoto patut mendapat apresiasi tinggi dari pemerintah desa maupun daerah. Semangat mereka dalam bertani perlu difasilitasi dan didukung untuk membantu meningkatkan ketahanan pangan desa.

Memilih Varietas Cabai Unggulan

Dalam upaya mencapai hasil panen yang maksimal, Fakatoto memilih beberapa varietas cabai rawit unggulan seperti *Baskara, Dewata, Sigantung, dan Aura*. Setiap varietas memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Misalnya, cabai Baskara yang membutuhkan perhatian intens namun mampu berbuah lebat dengan kualitas tahan lama, dan cabai Dewata yang terkenal dengan harga pasar yang lebih tinggi.

Proses Budidaya dan Teknik Perawatan

Budidaya cabai dimulai dengan proses persemaian benih yang direndam dalam air hangat atau larutan Previcur N sebelum disebar di bedengan persemaian. Setelah beberapa hari, bibit dipindahkan ke pot-pot kecil hingga siap ditanam di lahan terbuka. Pengolahan lahan dilakukan dengan mencangkul hingga gembur, kemudian dibuat bedengan-bedengan untuk menanam bibit cabai.

Pemupukan juga menjadi salah satu kunci keberhasilan Fakatoto. Pupuk kandang dan pupuk buatan seperti TSP, Urea, ZA, dan KCl digunakan secara bertahap untuk memastikan tanaman cabai tumbuh subur. Selain itu, penggunaan mulsa dari jerami atau plastik hitam perak membantu menjaga kelembaban tanah dan mengurangi serangan hama.

Panen dan Pasca Panen

Cabai rawit dapat dipanen pertama kali pada umur 75-80 hari setelah tanam di dataran rendah, atau 4-5 bulan di dataran tinggi. Setelah dipanen, cabai dipisahkan berdasarkan kualitas dan dikemas dalam wadah dengan sirkulasi udara yang baik untuk menjaga kesegarannya saat pengiriman jarak jauh.

Keberhasilan Fakatoto dalam budidaya cabai menjadi bukti bahwa semangat, kerja keras, dan inovasi dari generasi muda mampu membawa perubahan nyata di sektor pertanian. Dukungan dari pemerintah dan berbagai pihak sangat diperlukan agar lebih banyak pemuda tertarik dan terlibat dalam sektor ini, demi masa depan pertanian yang lebih cerah dan berkelanjutan.

 

 

Editor  : Nasru


Administrator