Oleh Tim TEKAD kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat
Kecamatan Amalatu merupakan salah satu dari 11 Kecamatan yang ada di Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Seram Bagian Barat Nomor 11 Tahun 2019, terdapat 7 Desa yang berada dibawah Kecamatan Amalatu, yaitu Desa Tihulale, Rumahkay, Latu, Tomalehu, Hualoy, Seriholo dan Desa Tala dengan Ibukota Kecamatan terletak di Desa Latu. Secara geografis, Kecamatan Amalatu berbatasan dengan Kecamatan Kairatu dan Kecamatan Inamosol di sebelah Barat, Kecamatan Elpaputih di sebelah Timur dan Laut Banda di sebelah Selatan.
Berdasarkan hasil Pemetaan Desa Tahap II Program TEKAD, jumlah penduduk di Kecamatan Amalatu adalah 12.888 Jiwa. Mata pencaharian sebagai petani sebanyak 6.069 Jiwa. Umumnya komoditas pertanian yang diusahakan oleh masyarakat di Kecamatan Amalatu adalah tanaman umur pendek seperti jagung, kacang tanah, ubi, cabe, kangkung dan lain-lainnya.
Selain pertanian, sektor yang banyak ditekuni masyarakat di Kecamatan Amalatu adalah sektor perkebunan. Salah satu komoditas perkebunan yang diusahakan oleh masyarakat di Kecamatan Amalatu adalah Cengke Utang (Cengkih Hutan-nama yang biasa digunakan masyarakat). Cengke Utang merupakan salah satu jenis cengkih dengan ukuran biji, daun dan gagang yang lebih besar, dengan usia panen pertama yang jauh lebih cepat daripada cengkih Tuni.
Selain usia panen pertama yang jauh lebih cepat (4-5 Tahun) dan produksi buah yang lebih tinggi, dalam membudidayakan Cengke Utang, tidak dibutuhkan perawatan atau perlakukan khusus karena tanaman ini memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi dan tingkat pertumbuhan yang sangat cepat. Seperti tanaman umur panjang lainnya, masa produksi Cengke Utang yaitu 1 tahun sekali dengan waktu panen berada di bulan Februari sampai dengan bulan Maret.
Di Provinsi Maluku, Cengke Utang bisa dikategorikan sebagai tanaman endemik dari Kecamatan Amalatu karena tanaman ini tumbuh subur dengan tingkat produktivitas tinggi di desa-desa yang ada di Amalatu. Bila Cengke Tuni biasanya ditanam di dataran tinggi atau daerah pegunungan, Cengke Utang bisa tumbuh di dataran rendah atau daerah pesisir, bahkan ditanam di sekitar pekarangan rumah penduduk.
Kecamatan Amalatu merupakan salah satu dari 11 Kecamatan yang ada di Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Seram Bagian Barat Nomor 11 Tahun 2019, terdapat 7 Desa yang berada dibawah Kecamatan Amalatu, yaitu Desa Tihulale, Rumahkay, Latu, Tomalehu, Hualoy, Seriholo dan Desa Tala dengan Ibukota Kecamatan terletak di Desa Latu. Secara geografis, Kecamatan Amalatu berbatasan dengan Kecamatan Kairatu dan Kecamatan Inamosol di sebelah Barat, Kecamatan Elpaputih di sebelah Timur dan Laut Banda di sebelah Selatan.
Berdasarkan hasil Pemetaan Desa Tahap II Program TEKAD, jumlah penduduk di Kecamatan Amalatu adalah 12.888 Jiwa. Mata pencaharian sebagai petani sebanyak 6.069 Jiwa. Umumnya komoditas pertanian yang diusahakan oleh masyarakat di Kecamatan Amalatu adalah tanaman umur pendek seperti jagung, kacang tanah, ubi, cabe, kangkung dan lain-lainnya.
Selain pertanian, sektor yang banyak ditekuni masyarakat di Kecamatan Amalatu adalah sektor perkebunan. Salah satu komoditas perkebunan yang diusahakan oleh masyarakat di Kecamatan Amalatu adalah Cengke Utang (Cengkih Hutan-nama yang biasa digunakan masyarakat). Cengke Utang merupakan salah satu jenis cengkih dengan ukuran biji, daun dan gagang yang lebih besar, dengan usia panen pertama yang jauh lebih cepat daripada cengkih Tuni.
Selain usia panen pertama yang jauh lebih cepat (4-5 Tahun) dan produksi buah yang lebih tinggi, dalam membudidayakan Cengke Utang, tidak dibutuhkan perawatan atau perlakukan khusus karena tanaman ini memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi dan tingkat pertumbuhan yang sangat cepat. Seperti tanaman umur panjang lainnya, masa produksi Cengke Utang yaitu 1 tahun sekali dengan waktu panen berada di bulan Februari sampai dengan bulan Maret.
Di Provinsi Maluku, Cengke Utang bisa dikategorikan sebagai tanaman endemik dari Kecamatan Amalatu karena tanaman ini tumbuh subur dengan tingkat produktivitas tinggi di desa-desa yang ada di Amalatu. Bila Cengke Tuni biasanya ditanam di dataran tinggi atau daerah pegunungan, Cengke Utang bisa tumbuh di dataran rendah atau daerah pesisir, bahkan ditanam di sekitar pekarangan rumah penduduk.
Pada umumnya masyarakat di Kecamatan Amalatu dalam membudidayakan Cengke Utang masih pada skala kecil, atau hanya dijadikan sebagai tanaman tumpang sari pada lahan-lahan yang sudah ditanami. Padahal, dengan keberadaannya yang masih terbatas, produksi yang tinggi dan harga yang baik, budidaya tanaman ini dengan skala yang jauh lebih besar memiliki prospek yang sangat menjanjikan dalam menopang perekonomian masyarakat di Kecamatan Amalatu.
Berdasarkan data yang berhasil dihimpun oleh Fasilitator Kecamatan dan Kader Desa, jumlah produksi Cengke Utang di Kecamatan Amalatu pada tahun 2024 mencapai 85 Ton kering dengan nilai transaksi mencapai kurang lebih 7 Miliar Rupiah, dengan produksi tertinggi berada di Desa Hualoy, Latu dan Tomalehu. Data ini menunjukan, walaupun tanaman Cengke Utang masih dibudidaya dengan skala kecil oleh masyarakat, tetapi nilai ekonomi yang dihasilkan sangat fantastis. Bila dikembangkan dengan skala yang jauh lebih besar dengan pendekatan teknologi pasca panen yang lebih modern serta rantai pemasaran yang jauh lebih luas, bukan tidak mungkin tanaman Cengke Utang bisa menjadi salah satu tulang punggung perekonomian di Kecamatan Amalatu maupun di Kabupaten Seram Bagian Barat.
Salah satu kendala yang sering dihadapi oleh masyarakat dalam membudidayakan Cengke Utang adalah proses pengeringan karena bijinya yang lebih besar, kadar air Cengke Utang sangat tinggi, sehingga mengakibatkan proses pengeringan memerlukan waktu yang cukup lama. Masyarakat di Kecamatan Amalatu dalam melakukan proses pengeringan Cengke Utang, masih menggunakan cara-cara tradisional yaitu dengan memanfaatkan sinar matahari.
Metode tradisional seperti ini menyebabkan proses pengeringan memerlukan waktu lebih dari 7 hari dengan kondisi terik matahari yang cukup. Selain itu, waktu panen yang berada di bulan Februari sampai dengan Maret dimana dalam rentang waktu ini, curah hujan di Kecamatan Amalatu cukup tinggi.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Seram Bagian Barat Tahun 2022, jumlah hari hujan di Kecamatan Amalatu pada bulan Februari-Maret berkisar 8-10 hari per bulan. Kondisi ini menyebabkan hasil produksi Cengke Utang milik masyarakat banyak mengalami kerusakan. Salah satu turunan dari kendala diatas mengakibatkan harga Cengke Utang di tingkat petani sering mengalami fluktuatif.
Selain harganya yang cukup tinggi di pasaran, keberadaan Cengke Utang yang masih terbatas di daerah-daerah di Provinsi Maluku mengakibatkan jumlah permintaan bibit atau anakan Cengke Utang mengalami kenaikan. Kondisi ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat di Kecamatan Amalatu sebagai prospek usaha budidaya anakan Cengke Utang untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.
TEKAD sebagai salah satu program pemberdayaan diharapkan mampu memberikan manfaat dalam meningkatkan pendapatan masyarakat terutama petani Cengke Utang di Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku melalui teknik pembibitan dengan skala yang lebih besar, pemanfaatan teknologi pada masa pasca panen terutama pada proses pengeringan dan penyediaan rantai pemasaran yang relatif stabil dan berkelanjutan.