TEKAD

Mempercepat pembangunan desa khususnya di Indonesia bagian timur

Kontak Kami

Jl. TMP Kalibata No.17, Jakarta Selatan, 12750, DKI Jakarta, Indonesia.
021 - 7994372

humas@kemendesa.go.id

Ikuti Kami

Sekretaris Jenderal Kementerian Desa PDTT Melakukan Panen Ikan Nila Bersama Warga Desa Jarakore.

BUDIDAYA IKAN NILA DESA JARAKORE HALBAR MENUJU EKONOMI INKLUSIF

Oleh :  Nofdi Usman

Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Sahu Kabupaten Halmahera Barat

Program TEKAD sebagai Pilot Projek di Kabupaten Halbar hadir pada tahun 2021, Program TEKAD tersebar di 4 kecamatan yakni Kecamatan Jailolo, Jailolo Selatan, Sahu dan Sahu Timur. Sesuai besline survey, Desa Jarakore termasuk salah satu desa yang mendapatkan kegiatan program TEKAD. Sebagai desa yang memiliki keunggulan budidaya ikan nila, maka sebagai Fasilitator Kecamatan (FK) bersama Fasilatator Kabupaten (Faskab) melakukan elaborasi terkait pengembangan potensi desa ini. Melalui muswarah desa (Musdes) yang didahului dengan kegiatan mereview RPJMDesa, pembentukan Kelompok Penerima Bantuan (KPB) dan penentuan titik lokasi kegiatan. Berdasarkan kesepakatan Musdes, maka kegiatan yang diprioritaskan untuk dikembangkan adalah budidaya ikan nila sebagai komoditi unggulan desa.

Selain itu, dengan luasan lahan tambak yang  ideal, Desa Jarakore juga potensial dikembangan sebagai desa wisata dengan konsep agrowisata. Konsep ini mendorong pemanfaatan pematang kolam ikan nila dengan budidaya tanaman holtikultura. Ini adalah ide yang digagas oleh FK yang melakukan pendampingan program TEKAD di Desa Jarakore. Tentu, ini juga melalui upaya dialogis antara FK TEKAD, masyarakat, Pemdes setempat.

Melalui bantuan Demplot program TEKAD pada tahun 2022  berupa bantuan 30 ribu benih ikan dan 60 sak pakan ikan, bantuan ini diberikan pada KPB yang berjalan selama 1 tahun lebih dan telah beberapa kali panen secara parsial, Dan pada bulan September tahun 2023 dilakukan kunjungan langsung oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Desa dan PDTT, Bpk. Taufik Madjid, S.Sos., M.Si untuk melihat kegiatan Demplot secara langsung sekaligus melakukan panen bersama warga Desa Jarakore.

Perikanan budidaya merupakan sumber daya yang berpotensi besar dan mempunyai peranan penting dalam menunjang perkembangan ekonomi masyarakat desa. Sumberdaya perikanan sebagai bagian dari sumberdaya ekonomi memiliki daya tawar pasar yang cukup kuat baik nasional maupun mancanegara. Mihail dan Latu (2020), dalam “Sutainable Rural Development under Agenda 2030”,  mengatakan pembangunan berkelanjutan di daerah pedesaan merupakan sebuah keharusan, bahkan ditempatkan sebagai agenda dunia dengan visi mengurangi kesenjangan georafis dan sosial ekonomi.

Visi berkelanjutan ini mulai menyentuh desa-desa di wiayah timur Indonesia, diantaranya adalah Desa Jarakore. Desa yang masuk di Kecamatan Sahu Kabupaten Halmahera Barat (Halbar) ini memiliki potensi alam yang sangat cocok untuk budidaya perikanan ikan air tawar. Hal ini dilihat dari kondisi geografis desa yang cenderung sebagian besar memiliki lahan gambut membentang sepanjang areal perkampungan. Olehnya, sejak 2005 Pemerintah Desa (Pemdes) melakukan pengembangan sektor budidaya sepanjang 20 Ha untuk ikan air tawar khususnya  komoditas budidaya ikan nila dengan membuat kolam sebanyak 27 petak dengan ketersediaan lokasi dan air yang bersumber dari mata air kali. Hingga saat ini kegiatan budidaya masih tetap berlangsung. Sebagian besar aktivitas masyarakat Desa Jarakore dihabiskan untuk kegiatan budidaya ikan nila dengan metode pembenihan yang masih dilakukan secara alami sehingga ikan yang mereka besarkan kemudian dipindahkan pada kolam pemeliharaan yang terdiri dari beberapa petak.

Umumnya warga yang bergelut dibidang ini memilik jumlah kolam yang bervariatif, ada yang memiliki 2 sampai 5 kolam. Ikan nila yang dibudidaya masih dilakukan dengan cara tradisional sehingga untuk mencapai waktu panen memakan waktu yang cukup lama hingga mencapai  kurang lebih 4 sampai 5 bulan, dengan pemberian pakan pelet yang mereka beli sendiri,  dan juga seringkali menerima bantuan pakan dari Dinas Perikanan serta Pemdes setempat. Untuk meminimkan biaya, mereka juga memberikan pakan alternatif tumbuhan azola sebagai pakan alami, yang memiliki nutrisi yang baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan ikan nila.

Ikan nila yang sudah memasuki usia panen, oleh petani budidaya tidak langsung dipanen keseluruhan, melainkan dilakukan secara parsial mengingat kondisi permintaan pasar yang masih relatif sepi, sehingga penjualan yang mereka lakukan bergantung kepada pembeli yang datang langsung ke lokasi tambak. Para pembeli biasanya berasal dari desa-desa tetangga yang datang membeli dengan harga jual Rp50.000 per kilo. Biasanya ikan nila banyak dipesan pada momen tertentu seperti acara pernikahan dan hari raya keagamaan sehingga para petani budidaya dapat meraup untung yang lumayan.

Sejak Dana Desa (DD) digelontorkan, pada tahun 2017 Pemdes Jarakore telah merealisasikan kegiatan pada sektor perikanan budidaya dengan melakukan pembuatan Jembatan Benon sebagai jalan utama untuk menghubungkan setiap jalur kolam ikan milik masyarakat desa dengan panjang mencapai 550 meter. Kegiatan ini dilakuan dengan sistem swakelola yang melibatkan partisipasi masyarakat dengan berbasis Padat Karya Tunai Desa (PKDT) sehingga membantu pendapatan masyarakat desa. 

Tidak hanya potensi budidaya nila, Desa Jarakore juga telah menghasilkan produk UMKM kuliner lokal yang meliputi aneka kue kering diantaranya kue bagea, kue putar, betawi, donat kering, dan roti tore yang sudah berproduksi sejak lama. Pekerjaan ini banyak diemban oleh ibu rumah tangga sebagai menambahkan sumber pendapatan keluarga selain suami mereka yang bekerja sebagai pembudidaya ikan nila. Sikap kemandiran ini merupakan faktor penting untuk mendorong kemajuan ekonomi desa yang tumbh merata, dapat mengentaskan kemiskinan sebagaimana tertuang dalam agenda SDGS desa.

Pembanguanan di desa harus disesuaikan dengan potensi yang dimiliki desa dengan melihat karifan lokal desa sehingga dapat dikelola secara inklusif dan partisipatif oleh masyarakat desa. Dalam upaya mendorong  potensi yang dimiliki Desa Jarakore sebagai pengembangan sektor perikanan budidaya ikan air tawar yang sudah berlangsung sejak lama namun belum dikelola secara maksimal oleh masyarakat setempat, sehingga dengan melalui sosialisasi dan pendampingan fosilitator Program TEKAD Kecamatan Sahu dapat memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat terkait dengan pentingnya melakukan kegiatan untuk meningkatkan pendapatan ekonomi rumah tangga dengan pengelolaan potensi perikanan budidaya ikan air tawar.

Sesuai narasi “Transformasi” program TEKAD, diharapkan dapat merubah wajah desa yang dulunya masih miskin dan terbelakang dapat menjadi desa maju dan mandiri melalui upaya serius meningkatkan pembangunan desa yang berkelanjutan. Pada kesempatan ini penulis sebagai FK program TEKAD Bidang Pemberdayaan Masyarakat berharap, untuk mencapai Indonesia tanpa kemiskian pada tahun 2030 hendaknya yang dipersiapkan adalah pembangunan desa yang harus konsisten dengan pembanguanan yang berkelanjutan sehingga dengan bonus demografi yang mencapai puncaknya pada tahu 2030 bisa mengantarkan generasi mencapai Indonesia emas pada tahun 2045.

Dengan demikian untuk mencapai sosial welfare (kesejahteraan sosial), pemerintah harus melakukan penetrasi modal kepada kelompok penerima dan jangan hanya terbatas pada kegiatan yang bersifat momentum dan stimulan semata, melainkan harus komitmen pada pola sutainable sehingga pencapaian keberhasilan dapat terukur dengan baik. Pola ini diharapkan menjadi role model untuk desa lain yang belum mendapatakan bantuan program TEKAD. Begitu pula dengan kegiatan program TEKAD yang digagas oleh Kementerian Desa dan PDTT ini dibawa Dirjen Pengembangan Produk Unggulan Desa, kami harapkan dapat memberikan pengetahuan dan wawasan yang baik kepada seluruh fasilitator baik Faskab, FK, dan Kader Desa sehingga dalam kegiatan pendampingan di desa sesuai dengan apa yang diharapkan. (fsz-ed)


Administrator