TEKAD

Mempercepat pembangunan desa khususnya di Indonesia bagian timur

Kontak Kami

Jl. TMP Kalibata No.17, Jakarta Selatan, 12750, DKI Jakarta, Indonesia.
021 - 7994372

humas@kemendesa.go.id

Ikuti Kami

Fasilitator TEKAD Kabupaten Kaimana bersama masyarakat Kampung Foromajaya

Hujan Berkah Sertai Perjuangan Sosialisasi Program TEKAD Tahap II di Distrik Kaimana

Kaimana, 13 Agustus 2024 - Di tengah rintik hujan yang menyelimuti Kaimana, hari itu terasa lebih dari sekadar basah. Suasana di tanah Papua Barat ini seolah menandakan sebuah awal baru, ketika Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) memulai tahap keduanya. Program yang diinisiasi oleh Kementerian Desa, Pembangunan Desa Tertinggal, dan Transmigrasi ini bertujuan untuk membawa perubahan signifikan ke desa-desa di kawasan timur Indonesia—daerah yang hingga kini masih bergulat dengan tingkat kemiskinan tertinggi di negeri ini.

Program TEKAD hadir untuk memberi mereka harapan baru—harapan akan masa depan yang lebih baik, di mana pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan bisa diraih, bahkan oleh mereka yang selama ini mungkin merasa terpinggirkan.

Program ini menyasar kelompok-kelompok yang sering kali terlupakan: keluarga prasejahtera, perempuan, kaum muda, masyarakat adat, hingga penyandang disabilitas. Melalui tiga komponen utamanya—Pemberdayaan Ekonomi Desa, Kemitraan Dalam Pengembangan Ekonomi Desa, dan Pengembangan Inovasi, Pembelajaran, dan Kebijakan—TEKAD berupaya membuka jalan baru menuju kesejahteraan.

Perjalanan ke Kampung Foromajaya dan Saria
Sejarah kecil dimulai pada 12 Mei 2024, ketika saya, Bonifasius Maximus Beruatwarin, diberi amanah untuk mendampingi dua fasilitator distrik (Fasdis) dalam perjalanan menuju dua kampung di Distrik Kaimana: Foromajaya dan Saria. Sejak awal, perjalanan ini bukanlah perjalanan biasa. Dengan berbekal tekad yang kuat dan semangat yang tak pernah pudar, kami memulai langkah kami menuju Kampung Foromajaya yang berjarak sekitar 9,85 km dari Kota Kaimana.

Di sana, di hadapan 35 warga yang hadir, termasuk Kepala Kampung Yance Nasua, saya memaparkan visi besar Program TEKAD. Antusiasme mereka begitu terasa, terutama saat berita acara penerimaan program ini ditandatangani dengan penuh keyakinan. Sebuah musyawarah digelar untuk memilih Kader Kampung, dan Obet Naguasay terpilih sebagai penjaga harapan baru bagi Foromajaya.

Namun, tantangan sebenarnya baru dimulai ketika kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Saria, yang terletak 25,72 km dari Kaimana. Hujan deras dan gelombang tinggi menjadi teman perjalanan kami, seolah menguji tekad kami. Butuh waktu dua jam untuk tiba di Saria, di mana kami disambut kegelapan malam dan kondisi cuaca yang semakin buruk. Namun, di bawah cahaya redup dari lima lampu telepon genggam, kami tetap melanjutkan sosialisasi. Di tengah keterbatasan itu, semangat warga Saria tak pudar. Berita acara ditandatangani oleh Ketua Bamuskam, Nataniel Way, dan Daud Oruw terpilih sebagai Kader Kampung Saria.

Hujan yang Menyertai Perjuangan
Pukul 20.30 WIT, saat acara di Saria selesai, kami kembali ke Kaimana dengan kondisi cuaca yang tak berubah. Hujan deras dan gelombang tinggi tetap mengiringi perjalanan pulang kami. Angin malam yang dingin menusuk tulang seakan ingin menggoyahkan tekad kami, tetapi perahu kami terus melaju. Hujan yang terus turun bukanlah penghalang, melainkan berkah yang menandai keberhasilan tugas kami hari itu. Pukul 23.00 WIT, kami tiba kembali di Kota Kaimana dengan selamat.

Perjalanan ini menjadi sebuah pelajaran berharga bahwa tak ada sukses tanpa rintangan. Hujan deras yang menemani langkah kami adalah simbol keberkahan yang membawa kesuksesan dalam setiap upaya. Program TEKAD Tahap II di Distrik Kaimana bukan sekadar sosialisasi, tetapi juga kisah tentang perjuangan dan semangat yang tak pernah surut, meski badai menghadang. Di bawah hujan yang terus mengguyur, harapan untuk masa depan yang lebih baik terus menyala.

 

Penulis  : Bonifasius Maximus Beruatwarin

Editor    : Nasru


Administrator